Mendadak Jadi Jutawan, Petani Cabai di Pucuk Mojokerto Borong Motor dan Mobil

 


Para petani cabai di Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto mendadak jadi jutawan. Hal ini terjadi setelah keuntungan mereka melimpah akibat harga cabai melejit di pasaran.


Tak ayal para petani cabai ini memborong mobil dan motor untuk kebutuhan sehari-hari. Di antara banyaknya petani cabai yang beruntung itu salah satunya ada di Desa Pucuk, Kecamatan Dawarblandong.


Di desa ini, sekitar 90% dari 1.100 keluarga di desa ini mengais rezeki di sektor pertanian. Luasan lahan yang mereka garap untuk bertanam cabai rawit pun bervariasi. Mulai dari 500 meter persegi hingga lebih dari 1 hektare dan tersebar di Dusun Wotgaru, Pucuk, Brejel Lor, Brejel Kidul dan Kwarigan.


“Cabai komoditas yang diunggulkan masyarakat sini. Setiap tahun saat masuk musim hujan ya tanam cabai.

Panen raya sejak akhir Januari lalu, lanjut Nanang, benar-benar fenomenal. Betapa tidak, hasil panen yang melimpah disambut dengan harga cabai rawit yang mencapai Rp 95 ribu per kilogram.


Tak ayal banyak petani cabai di desanya mendadak jadi jutawan. Bahkan, keuntungan panen cabai yang berjibun membuat para petani di Desa Pucuk memborong sekitar 50 sepeda motor dan tiga mobil.


Mayoritas sepeda motor yang dibeli para petani cabai di Desa Pucuk dalam kondisi baru merk Honda Scoopy dan PCX. Ada pula yang mampu merenovasi rumah senilai Rp 50 juta.


“Banyak yang beli motor memang benar, kurang lebih satu desa 50 orang. Ada tiga orang yang beli mobil jenis Avanza dan Ertiga dari hasil panen cabai,” ungkapnya.


Salah seorang petani di Dusun/Desa Pucuk Listiono (56) mampu membeli mobil Toyota Avanza menggunakan uang hasil panen cabai rawit. Mobil warna putih itu dia beli dalam kondisi bekas sekitar dua pekan yang lalu seharga Rp 145 juta.


“Karena mobil menjadi kebutuhan keluarga. Anak saya tinggalnya jauh di Lumajang, saudara juga jauh-jauh. Biasanya numpang mobil saudara kalau ke sana. Sekarang alhamdulillah jelek-jelek sudah punya sendiri,” terangnya.


Manisnya musim panen cabai rawit tahun ini juga dirasakan Ngatiyo (50), petani di Dusun Pucuk. Melimpahnya keuntungan yang dia peroleh, membuat bapak dua anak ini mampu merenovasi dapur rumahnya.


“Karena lebih, saya gunakan membangun dapur rumah Rp 50 juta,” tandasnya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel